Hasan Nasbi soal Orang Desa Tak Pakai Dolar: Wisdom Orang Tua ke Anak

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Penasihat khusus presiden bidang komunikasi, Hasan Nasbi buka suara soal pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tak menggunakan dolar Amerika Serikat.

Prabowo menyampaikan itu di sela-sela peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5), sebagai respons atas tren penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Hasan mengatakan pernyataan Prabowo itu gamblang, sederhana dan tidak perlu untuk diterjemahkan secara beragam. Sebab, saat itu Prabowo berbicara di depan masyarakat desa yang sebenarnya paham dengan maksud dari ucapan itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Paham dalam arti dua. Paham bahwa memang mereka secara tidak langsung tidak menggunakan dolar sama sekali. Mereka belanja pakai rupiah, jasa, tenaga, pertukaran barang semua berdagang pakai rupiah. Dan enggak terlalu memikirkan berapa kurs dolar pada saat itu," kata Hasan dalam video yang diunggah di akun Youtubenya, seperti dikutip Rabu (20/5).

"Dan yang kedua, sebenarnya masyarakat desa tuh juga paham bahwa presiden bicara di depan mereka pada saat itu seperti wisdom orang tua berbicara di depan anak-anaknya," sambungnya.

Hasan menegaskan pemerintah tidak menutup mata atas tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terjadi saat ini. Pada 5 Mei lalu, Prabowo pun telah memanggil Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Gubernur BI hingga Komisioner OJK.

"Selain membahas pertumbuhan ekonomi, mereka juga membahas soal tekanan nilai tukar. Soal berbagai langkah skenario yang bisa kita ambil, yang bisa diambil pemerintah untuk menstabilkan kembali nilai tukar," tutur dia.

Disampaikan Hasan, tidak semua kerja-kerja pemerintah dalam menghadapi setiap persoalan perlu disampaikan ke masyarakat. Kata dia, ini merupakan bentuk dari wisdom atau kebijaksanaan.

"Kerumitan-kerumitan ini, kompleksitas persoalan ini enggak harus ditransfer ke masyarakat. Apalagi masyarakat desa. Nah, ini kan wisdom, wisdom dari orang tua terhadap anak anaknya, wisdom dari pemerintah terhadap warga negaranya. Apakah ada warga negara yang mengerti persoalan sebenarnya? Iya, ada pasti," tutur Hasan.

"Tapi kerumitan itu tidak harus dia transfer ke warga negara yang lain. Karena yang nanti ujung-ujungnya mengatasi ini kan pemerintah. Yang harus berpikir keras pemerintah, yang harus menjadikan ini sebagai beban hidup dan kepusingan itu pemerintah. Jadi kasih waktu pemerintah untuk menjalankan strategi untuk menstabilkan nilai tukar. Mencari titik ekuilibrium, entah itu titik ekuilibrium lama atau titik ekuilibrium baru nilai tukar rupiah terhadap US dolar," sambungnya.

(dis/wis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
International | Politik|