Jakarta, CNN Indonesia --
Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas'ud menuai kritik dari para peserta aksi 21 April karena tidak menemui massa yang mendatangi kantornya.
Rudy hanya muncul melalui media sosial (medsos) sehari setelah aksi dan mengucapkan terima kasih atas masukan massa yang terjun aksi 21 April.
Belakangan, Rudy buka suara soal alasan dirinya yang tak menemui demonstran. Di antaranya adalah prosedur pemerintahan hingga alasan keamanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dinilai lebih tepat ke DPRD
Rudy mengatakan sejak awal tuntutan massa lebih ditujukan kepada DPRD, bukan langsung kepada pemerintah provinsi. Karena itu, menurutnya, jalur penyampaian aspirasi seharusnya difokuskan ke lembaga legislatif.
"Tujuan utamanya itu ke DPRD. Tuntutannya ke DPRD. Kalau tidak dipenuhi, seharusnya stay di DPRD," ujarnya, saat pertemuan dengan awak media, dikutip detikKalimantan, Kamis (23/4).
Tak ada permintaan resmi
Rudy mengklaim tidak ada permintaan resmi dari massa untuk bertemu langsung di Kantor Gubernur. Namun demikian, ia mengaku tetap membuka ruang dialog, hanya saja tidak dilakukan di tengah kerumunan aksi.
"Kami tidak pernah menerima permintaan untuk bertemu di kantor gubernur. Tapi kami sudah menyampaikan siap berdialog, tidak di tengah kerumunan massa," katanya.
Menurutnya, pertemuan dalam suasana aksi yang memanas justru tidak efektif dalam menghasilkan keputusan. Ia menilai dialog formal dengan data akan lebih tepat untuk membahas tuntutan.
"Kalau di lapangan itu dalam keadaan panas. Tidak akan menghasilkan solusi. Harus dengan data, tidak bisa asal bicara," tegasnya.
Faktor Keamanan
Ia juga mengungkapkan, kondisi di lapangan saat itu sudah memasuki batas waktu aksi. Bahkan, sempat terjadi insiden pelemparan botol hingga benda lain ke arah aparat keamanan.
"Sudah sore, hampir jam enam. Setelah itu ada insiden pelemparan botol, plastik, bahkan batu ke aparat," terangnya.
Ia menilai situasi tersebut berisiko jika dirinya berada langsung di tengah massa. Karena itu, aspek keamanan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
"Bisa dibayangkan kalau saya di tengah situasi seperti itu. Makanya kami memilih dialog makanya kami minta berdialog," tutur dia.
Tawarkan dialog rutin
Rudy menegaskan pemerintah tetap membuka ruang komunikasi. Bahkan, ia menawarkan dialog rutin di rumah jabatan gubernur yang digelar secara berkala.
"Kami membuka pintu, rumah jabatan gubernur itu satu bulan sekali untuk berdialog," katanya.
Ia juga mengajak mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat untuk ikut mengawal pembangunan di Kalimantan Timur. Menurutnya, kritik dan masukan tetap dibutuhkan selama disampaikan secara konstruktif.
"Kami ingin seluruh masyarakat jadi penyeimbang. Mari kita sama-sama mengawal pembangunan, jangan biarkan pemerintah berjalan sendiri," pungkasnya.
Tuntutan Aksi 21 April
Aksi 21 April Rakyat Kaltim merupakan aksi massa turun ke jalan sebagai puncak protes terhadap kebijakan pemerintahan Rudy Mas'ud di Kaltim.
Massa aksi 21 April berunjuk rasa dengan mengusung tiga tuntutan.
Isi tiga tuntutan aksi rakyat itu adalah mengaudit seluruh kebijakan Pemprov Kaltim,setop praktik KKN di Kaltim, dan mendesak DPRD Kaltim segera bersikap dan menjalankan fungsi pengawasan secara total.
Selengkapnya di sini.
(gil)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
4















































