Dhandy Laksono soal Biaya Pembuatan Film Pesta Babi: Pokoknya Ada

6 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Sutradara film dokumenter Dandhy Laksono buka suara terkait sumber dana pembuatan 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'.

Dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Tribunnews, Dandhy menyebut ada sumber dana yang digunakan dalam pembuatan film itu. Ia berseloroh, ia berhak hanya menjawab 'pokoknya ada' karena tidak memiliki tanggung jawab atas pajak yang dibayar masyarakat.

"Pokoknya ada. Saya berhak tuh ngomong 'pokoknya ada' karena saya enggak mempertanggungjawabkan pajak. Ya kan. Lebih bener kalau saya ngomong 'pokoknya ada'. Itu sah," ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia justru mempertanyakan kenapa inisiatif yang dilakukan oleh masyarakat sipil justru lebih mudah dicurigai terkait asal-usul pendanaannya.

Padahal, menurut dia, hal serupa tidak terjadi terhadap asal-usul dana Pemilu oleh masing-masing kontestan Pilpres hingga dana Partai Politik untuk bisa membagikan sembako atau membuat konser besar.

"Orang justru lebih curious dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini daripada dari mana sih duit capres untuk pemilu? Dari mana sih duit parpol bisa bagi-bagi sembako, bisa bikin konser gede? Dari mana sih duit jenderal-jenderal polisi dan tentara ketika dia mau promosi jabatan," tuturnya.

Kendati demikian, Dandhy menekankan bahwa dalam karya jurnalistik, sangat penting untuk mengungkap dari mana sumber berita termasuk sumber pendanaannya.

Pasalnya lewat keterbukaan itu publik bisa menilai apakah karya jurnalistik itu independen atau tidak. Oleh karenanya, ia menyebut dalam karya Pesta Babi, publik bisa melihat dengan jelas pihak-pihak yang terlibat melalui logo di poster dan di film tersebut.

"Semua nama orangnya jelas, temen-temen bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Itulah para kolaborator. Jadi itulah lembaga-lembaga yang patungan untuk membiayai film ini," jelasnya.

Ia juga menyebut seluruh kru yang terlibat dalam produksi film bekerja tanpa menerima bayaran. Termasuk dirinya sebagai sutradara, serta Cypri Paju Pale selaku produser hingga director of photography dan videografer.

"Saya sebagai sutradara, Bang Cypri sutradara, para produser, para director of photography, videografer, itu enggak ada yang dibayar," katanya.

Dandhy mengatakan bentuk pendanaan yang dimaksud dalam film tersebut tidak sebatas nominal uang semata. Melainkan juga dalam bentuk alat ataupun tenaga.

"Jadi itulah urunannya dalam bentuk orang dan alat, bukan dalam bentuk duit. Temen-temen yang punya duit, dia nyumbang transport-nya gitu. Tapi enggak ada honor," tuturnya.

"Jadi kami semua bener-bener mengerjakan ini dengan gotong royong, dengan patungan, dan kami percaya bahwa usaha ini justru akan lebih membuat filmnya passionate," imbuhnya.

Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mempertanyakan asal dana untuk pembuatan film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

"Sekarang permasalahannya, orang sampai membuat video, bagaimana ceritanya seperti ini segala macam, duitnya dari mana? Ya, coba aja, ya kan? Sampai datang ke sana, bikin video, terbang sini terbang sana, orang berduit lah," kata dia.

(tfq/isn)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
International | Politik|