Jakarta, CNN Indonesia --
Marsinah tidak pernah benar-benar "mati". 33 tahun setelah jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk petani di Nganjuk, Jawa Timur, suara buruh perempuan ini justru beresonansi makin kencang.
Marsinah bukan sekadar angka dalam statistik kekerasan pada masa Orde Baru. Ia adalah simbol keberanian sipil yang menolak tunduk pada hegemoni kapitalis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Dia lahir dari pasangan Mastin dan Sumini, dengan kakak Marsini dan adiknya Widjiati.
Namun, ibunya, Sumini, meninggal saat Marsinah masih berusia tiga tahun. Dia kemudian diasuh oleh nenek Puriah dan bibinya Sini serta pamannya Suraji.
Keluarganya hidup dengan sederhana dan ekonomi yang pas-pasan. Marsinah kecil bahkan sudah harus bekerja di pasar menjual gabah dan jagung. Hal itu membentuknya menjadi sosok yang mandiri dan berani.
Di sekolah, Marsinah dikenal sebagai siswi yang cerdas dan sering menduduki peringkat satu di kelasnya. Ia pun sempat punya angan berkuliah di perguruan tinggi dan menjadi sarjana hukum. Namun, tembok kemiskinan memaksanya mengubur mimpi itu dalam-dalam.
Setamat SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk pada 1987, Marsinah akhirnya merantau ke Surabaya. Setelah sempat bekerja di pabrik sepatu Bata, ia akhirnya berlabuh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo, sejak 1990.
Di sanalah dia dikenal sebagai buruh yang vokal dan keras menyuarakan upah layak. Dia juga kerap membela teman-temannya yang diperlakukan tak adil oleh perusahaan.
Perlawanan Marsinah
Tragedi ini bermula terbitnya Surat Edaran Gubernur Jawa Timur No. 50/1992 yang mengimbau pengusaha menaikkan upah pokok sebesar 20 persen. Tapi PT CPS bergeming. Keengganan perusahaan inilah yang memicu kemarahan buruh, termasuk Marsinah.
Pada 3 dan 4 Mei 1993, Marsinah memimpin rekan-rekannya melakukan aksi mogok kerja. Sebanyak 12 tuntutan diajukan, mulai dari kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, THR satu bulan gaji, ada juga soal hak-hak perempuan, seperti cuti hamil, tunjangan kesehatan, dan lainnya.
Perjuangan Marsinah mencapai titik krusial pada Mei 1993, ketika 13 buruh dipanggil oleh aparat dan dipaksa mengundurkan diri.
Mendengar kabar rekan-rekannya diperlakukan tidak adil, Marsinah meradang. Pada 5 Mei 1993, Marsinah dan seorang temannya mengajukan surat protes kepada PT CPS. Ia mempertanyakan alasan pemanggilan 13 buruh lainnya, karena tindakan tersebut dianggap melanggar kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.
Malam harinya, Marsinah juga masih berkumpul dan berdiskusi dengan rekan-rekan kerjanya mengenai situasi pasca-pemanggilan tersebut. Namun, setelah berpamitan untuk pergi dari Desa Siring sekitar pukul 21.30 WIB, dia menghilang dan tak diketahui keberadaannya. Itulah momen terakhir Marsinah terlihat dalam keadaan hidup.
Selama tiga hari, Marsinah menghilang dan tak diketahui keberadaanya. Pencarian yang dilakukan rekan-rekan dan keluarganya nihil, hingga kabar mengejutkan datang dari Nganjuk, 9 Mei 1993.
Jenazah Marsinah ditemukan oleh sekelompok anak-anak di sebuah gubuk di tengah sawah Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk. Kondisi jasadnya sudah membeku dan tampak luka bekas kekerasan di sekujur tubuhnya.
Setelah ditemukan tewas, jasad Marsinah dua kali diautopsi. Ia disebut meninggal pada 8 Mei 1993, atau sehari sebelum ditemukan dalam kondisi mengenaskan di gubuk tersebut.
Kematian Marsinah memicu amuk publik dan sorotan internasional. Tekanan yang begitu besar membuat pemerintah membentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jawa Timur untuk mengusut kasus ini.
Sembilan orang ditangkap, termasuk Pemilik PT CPS Yudi Susanto dan beberapa staf manajemen perusahaan. Mereka diseret ke pengadilan dalam proses hukum yang penuh kejanggalan.
Para terdakwa mengaku disiksa aparat selama penyidikan untuk mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan. Hasilnya, di tingkat Kasasi, Mahkamah Agung membebaskan seluruh terdakwa karena minimnya bukti fisik, mereka tak terbukti membunuh Marsinah. Hingga hari ini, tokoh utama pembunuh Marsinah tak pernah terungkap.
Pengakuan Negara
Setelah puluhan tahun, sejarah Marsinah memasuki babak baru. Pada 10 November 2025, Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah.
Kini, di tahun 2026, penghormatan terhadap Marsinah tidak berhenti pada selembar piagam. Pemerintah akan meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk dan menjadikan desa kelahirannya sebagai Desa Wisata Edukasi.
"Saudara-saudara kita sudah mengangkat ibu Marsinah sebagai pahlawan nasional. Dan bulan ini juga, saya akan berangkat ke Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, untuk meresmikan Museum Perjuangan Buruh yang diberi nama Museum Marsinah," ujar Prabowo saat menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (1/5).
Sekali lagi, 33 tahun berlalu, Marsinah tidak pernah "mati". Namanya masih hidup di tengah jalan, di tiap demonstrasi buruh yang terus memperjuangkan haknya, dia tak lekang dari catatan ingatan kolektif para kelas pekerja.
(frd/har)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
3

















































