Jakarta, CNN Indonesia --
Komisi III DPR RI menggelar rapat dengar pendapat dengan Polda Metro Jaya, KontraS hingga Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) terkait perkembangan kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, Selasa (31/3).
"Sesuai dengan daftar kehadiran, kuorum fraksi sudah terpenuhi. Saya mohon berkenan, rapat ini kita nyatakan terbuka untuk umum. Sepakat?" kata Ketua Komisi III Habiburokhman saat membuka rapat di kompleks parlemen.
Ia menjelaskan rapat dimulai dengan paparan dari Polda Metro Jaya terkait perkembangan kasus. Lalu paparan dari pihak kuasa hukum dan juru bicara Andrie. Kemudian pendalaman dari anggota Komisi III.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bukan hanya kali ini saja rapat terkait masalah ini ya, enggak akan selesai. Dan ini bukan yang pertama, kita sudah tiga kali rapat terkait penanganan kasus Andri Yunus ini. Sudah ada dua kesimpulan, dan lihat situasi, pokoknya akan selalu ya, begitu ada perkembangan, kita gelar rapat seperti ini," ujar dia.
Sebelumnya Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis (12/3) malam.
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya menyebut insiden itu terjadi usai Andrie Yunus menghadiri acara podcast berjudul "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia" di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), sekitar pukul 23.00 WIB.
"Telah mengalami serangan penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) yang mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3).
Belakangan,TNI menyatakan telah mengamankan 4 orang anggotanya yang diduga jadi pelaku penyiraman air keras ke Andrie Yunus, yakni NDP, SL,BHW, dan ES.
NDP berpangkat kapten. Sementara SL dan BHW berpangkat letnan satu (lettu)dan ES berpangkat sersan dua (serda).
Keempatnya bertugas di satuan Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (Denma BAIS) TNI yang berasal dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
Sementara itu Polda Metro Jaya mengungkap dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie. Keduanya punya inisial berbeda dengan yang dibeberkan Puspom TNI.
Versi Polda Metro Jaya, inisial dua pelaku adalah BHC dan MAK dengan kemungkinan terduga pelaku lebih dari dua orang.
(yoa/gil)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
4















































