Mendiktisaintek Buka Suara soal Dugaan WNI Palsukan Riset

8 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto buka suara soal isu dugaan pemalsuan riset yang dilakukan oleh warga negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Denmark.

"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," ujar Brian seperti dikutip dari Detik, Rabu (27/5).

Brian menyebut pihaknya tengah melakukan pendalaman mengenai dugaan riset palsu yang dilakukan oleh WNI tersebut. Ia berujar pendalaman dilakukan untuk mencari fakta dan status WNI dalam forum tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini kami terus melakukan koordinasi dan pendalaman bersama pihak terkait untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya, termasuk status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia," ucap Brian.

Disampaikan Brian, pihaknya tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kata dia, semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian.

Brian mengungkap para WNI itu tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif. Namun, lanjut dia, pihaknya tetap menaruh perhatian dalam kasus tersebut sebab berpengaruh terhadap persepsi ekosistem riset nasional.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," tutur dia.

"Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya," sambungnya.

Konferensi ilmiah internasional ISPPD 2026 berlangsung pada 17-21 Mei 2026. Dalam kegiatan itu, sekelompok periset asal Indonesia yang terdiri dari Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti mempresentasikan sejumlah hasil penelitian yang dianggap sangat impresif.

Usut punya usut, muncul dugaan bahwa penelitian yang dibawakan mereka hasil fabrikasi dan tidak pernah benar-benar dilakukan. Pelaku juga diduga memalsukan identitas.

Temuan soal dugaan kecurangan tersebut diungkap oleh peneliti bernama Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun threadsnya.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli Pneumonia diseluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis Mandhara Brasika dilihat dari akun Threadsnya, Rabu lalu.

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Yang lebih gila... Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisan nya juga," lanjutnya.

(dis/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
International | Politik|