Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menyebut, program Sekolah Rakyat akan menambah lebih dari 32 ribu siswa pada tahun ajaran 2026-2027.
Pernyataan itu disampaikan saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali. Dengan tambahan tersebut, jumlah siswa Sekolah Rakyat diproyeksikan mencapai lebih dari 45 ribu orang pada tahun ajaran mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2025-2026 ada lebih dari 15 ribu siswa Sekolah Rakyat eksisting dan pada tahun 2026-2027 ini ada alokasi lebih dari 32 ribu siswa Sekolah Rakyat tambahan. Berarti secara keseluruhan nanti 45 ribu lebih tahun ini," kata Gus Ipul dalam laporannya, Minggu (7/6).
Gus Ipul mengatakan, jumlah tersebut akan terus ditingkatkan seiring pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Pemerintah bahkan menargetkan jumlah siswa Sekolah Rakyat menembus 100 ribu orang pada tahun ajaran 2027-2028.
"Tahun depan 2027-2028 lebih dari 100 ribu. Insya Allah ini sesuai dengan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat," ujarnya.
Menurut Gus Ipul, saat ini pemerintah tengah menggelar kegiatan open house Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia agar calon siswa dan orang tua dapat melihat langsung proses pembelajaran yang berlangsung.
Ia menjelaskan, peserta Sekolah Rakyat tidak direkrut melalui pendaftaran terbuka, melainkan dijangkau langsung oleh pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo. Calon siswa diprioritaskan berasal dari keluarga yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Gus Ipul juga menegaskan, proses seleksi dilakukan melalui verifikasi data dan tanpa pungutan biaya maupun titipan dari pihak mana pun.
"Di mana di sini dilarang sesuai arahan Bapak Presiden untuk suap-menyuap, tidak boleh ada membayar, tidak boleh ada titipan dari siapa pun," ujarnya.
Dalam proses penjangkauan tersebut, pemerintah juga menemukan masih banyak anak yang belum pernah sekolah, putus sekolah, maupun berisiko putus sekolah.
"Apa yang kita temukan dalam penjangkauan ini, itu adalah ada beberapa siswa yang tidak pernah sekolah, belum pernah sekolah, putus sekolah, dan berpotensi putus sekolah," kata Gus Ipul.
Saat ini, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 titik sebagai sekolah rintisan. Salah satunya berada di Kabupaten Tabanan, Bali, yakni SRMP 17 Tabanan yang menampung 74 siswa SMP dalam tiga rombongan belajar.
Ia juga menegaskan, pemerintah menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap perundungan, kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun intoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat.
"Yang tidak boleh terjadi di Sekolah Rakyat adalah perundungan atau bullying, kekerasan fisik dan seksual, dan yang terakhir adalah intoleransi. Ini adalah dilarang keras, pelakunya akan kita tindak tegas dan pada saat itu pula akan kita berhentikan," katanya.
(del/asr)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
6

















































